Cultural Studies : Perlintasan Paradigmatik Dalam Ilmu Sosial

Pujo Sakti Nur Cahyo

Abstract


Pada tahun 1964 di Universitas Birmingham, Inggris, dibentuk sebuah lembaga pusat pengkajian budaya kontemporer yang diberi nama CCCS, Centre for Contemporary Cultural Studies. Lembaga yang diprakarsai oleh Richard Hoggart, E.P. Thompson, dan Raymond Williams tersebut bertujuan untuk mengkaji isu-isu kultural yang menjadi perhatian pada saat itu, seperti budaya kelas pekerja dan hal-hal yang berkaitan dengan praktek serta ideologi kapitalis. Pada perkembangannya, CCCS berhasil melahirkan karya-karya analisis kultural yang tidak hanya berfokus pada isu-isu kelas pekerja dan kapitalisme saja, namun juga mengenai praktek budaya massa, subkultur, feminisme, queer, dan media. Dibangun dalam konstruksi keilmuan yang transdisipliner, karya-karya analisis tersebut cenderung memiliki kesamaan dalam memandang dan menganalisis budaya, namun berbeda dari paradigma-paradigma kajian sosial yang sudah ada sebelumnya, walaupun tidak berarti menolak ataupun meninggalkannya. Kecenderungan paradigma ini kemudian dikenal sebagai Mahzab Birmingham, yang juga merupakan basis
paradigma Cultural Studies. Selama lebih dari 50 tahun, Cuttural Studies telah menjadi sebuah lintasan paradigma dalam ilmu sosial.

Save to Mendeley


Keywords


cultural studies, Mahzab Birmingham, Mahzab Frankfurt, budaya massa, transdisipliner.

Full Text:

PDF